Wednesday, August 27, 2014

Pengukuhan Mahasiswa Baru UNS Tanpa Jaket Almamater

Pengukuhan Maba UNS Tanpa Jas Almamater - Sebanyak 5.056 mahasiswa baru (maru) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dikukuhkan Rektor Universitas Sebelas Maret Rektor Prof Dr Ravik Karsidi MS. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, para mahasiswa yang dikukuhkan tersebut hanya mengenakan setelan warna putih, tanpa jaket almamater warna biru khas Jas dari UNS Surakarta ini.

Pengukuhan Maba UNS

Dari jumlah tersebut (5.056) Mahasiswa baru, hanya sembilan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater UNS Surakarta. Kesembilan Maba tersebut merupakan perwakilan dari sembilan fakultas yang mewakili untuk dikukuhkan Rektor. Padahal biasanya, pada saat pengukuhan dan Orientasi Penerimaan Mahasiswa Baru (Osmaru), seluruh Maba harus mengenakan jaket almamater sebagai identitas bahwa mereka sudah menjadi Mahasiswa UNS Surakarta.

Menanggapi hal itu, Rektor Prof Ravik mengemukakan jika ada persoalan teknis dalam pengadaan jaket almamater. ''Ada sedikit kendala teknis sehingga para mahasiswa baru tersebut tidak mengenakan jas almamater,'' katanya tanpa memerinci kendala teknis tersebut. Prof Ravik menjelaskan jaket almamater mahasiswa baru akan segera diserahkan melalui masing-masing fakultas secepatnya kepada Maba UNS Surakarta tersebut. Setelah dilantik mahasiswa baru mengikuti kuliah umum dan dilanjutkan Osmaru di masing masing fakultas.

Menteri Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS Surakarta Punto Djatmiko menyayangkan belum adanya jaket almamater untuk mahasiswa baru sampai saat pengukuhan dan Osmaru. ''Sayang sekali Pelantikan dan Osmaru mereka belum memakai jaket almamater. Momentumnya jaket almamater salah satunya adalah saat dikukuhkan jadi maru,'' kata Panto.

Ia mengemukakan, berdasarkan informasi yang diterima dari bagian Kemahasiswaan, mahasisa baru 2014/2015 yang melakukan registrasi on desk beberapa waktu lalu belum bisa memperoleh jaket almamater. Bahkan hingga 18 Agustus lalu, pengadaan jaket tersebut juga belum jelas.

Monday, August 11, 2014

Gagal di SNMPTN, Tuhan membukakanku jalan lewat SBMPTN.

Sore itu, 27 Mei 2013 bertepatan dengan berlangsungnya pengumuman SNMPTN, sekolahku mengadakan gladi resik untuk pelepasan siswa kelas XII. Aku gak ada feeling apapun mengenai SNMPTN. Tapi, jauh di lubuk hati aku juga berharap bisa lolos SNMPTN dan diterima di Psikologi UGM. Untuk SNMPTN aku mengambil 4 jurusan, yakni Psikologi dan Sastra Inggris di UGM dan sisanya FKIP Bahasa Inggris dan Sastra Inggris UNS. Sekitar jam 4 sore, saat sedang gladi resik tiba-tiba dari arah belakang di deretan kelas IPS 3 ada yang bersorak heboh banget. Mereka mengerubungi seseorang yang sedang memegang entah HP atau Tablet aku lupa.
Oh, pengumuman SNMPTN sudah keluar rupanya. Karena kelasku di IPS 1 otomatis aku duduk di barisan depan sendiri, aku menengok ke belakang dan ikut tersenyum saat mengetahui kalau ada salah satu temanku yang lolos SNMPTN. Aneh, meskipun aku juga penasaran dengan nasibku di SNMPTN, tapi aku gak deg-degan sama sekali. Dan akhirnya karena kebetulan gladi resik telah selesai, para guru memperbolehkan kami pulang. Siswa kelas XII langsung berhamburan menuju pintu keluar gedung, tidak sabar ingin segera melihat pengumuman di rumah masing-masing, tak terkecuali aku. Setelah mengantar salah seorang teman yang dijemput orang tuanya di sekolah, aku langsung pulang ke rumah. Dalam perjalanan aku terus-terusan berdoa kepada Tuhan. Aku ingat dalam salah satu doaku, aku meminta agar Tuhan melapangkan dadaku untuk hasil apapun di SNMPTN ini. Setelah sampai rumah, aku langsung masuk kamar, buka laptop plus masang modem, dan membuka laman resmi pengumuman SNMPTN. Aku masih memakai seragam putih abu-abu, napasku masih ngos-ngosan dan seingatku aku bahkan belum melepas kaos kaki. Tak hentinya aku berdoa, apapun hasilnya aku akan menerima dengan lapang dada. Hatiku mencelos saat itu juga saat laman SNMPTN terbuka dan yang ku dapat hanyalah sebuah kalimat permohonan maaf dalam kotak merah. Ibuku yang saat itu duduk di sampingku bilang gini, “loh yun? Kok gak lolos gimana? Kamu sih ngambilnya ketinggian.” Yah memang, Psikologi UGM memang cukup tinggi passing gradenya, apalagi saingannya yang bukan lagi dalam ratusan tapi ribuan! Apakah saat itu aku menangis? Enggak sama sekali! Hal pertama yang langsung aku lakukan setelah dinyatakan tidak lolos SNMPTN adalah mencari informasi pendaftaran SBMPTN. Untunglah aku belum terlalu terlambat untuk mendaftar. Alih-alih menggalau, menangis atau mengurung diri di kamar semalaman, aku langsung move on ke SBMPTN. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa aku saat itu kecewa, tapi aku segera bangkit untuk berjuang mendapatkan PTN lewat jalur kedua yakni SBMPTN. Saatnya masuk ke pertarungan yang sesungguhnya!
Keesokan harinya, aku galau. Galau nentuin pilihan jurusan. Di sini, aku harus mikir matang-matang supaya gak salah ambil jurusan lagi. Ada beberapa hal yang aku pertimbangin: daya saing, daya tampung, prospek kerja masa depan, dan yang paling penting yang sesuai dengan minat dan bakatku. Sekedar info saja, bagiku milih jurusan di PTN itu SERIBU KALI lebih berat ketimbang saat aku milih jawaban pas UN. Karena apa? Karena apa yang kita pilih itu, itulah yang akan kita pelajari selama kurang lebih 4 tahun ke depan yang juga menentukan masa depan kita nantinya. Berhari-hari tiap malam aku nangis di kamar minta hikmat dari Tuhan. Dari kelas X aku pengin banget jadi guru bahasa inggris, tapi saat itu aku juga mupeng banget belajar psikologi. Dua hal yang bener-bener bikin aku galau. Aku gak les di bimbel. Jangankan les di bimbel, punya buku soal-soal SBMPTN plus pembahasannya aja enggak! Puji Tuhan pihak sekolahku baik hati banget, mau memberi kami para pejuang SBMPTN bimbel gratis di sekolah. Jadi aku cuma ngandelin soal-soal dari sekolah dan beberapa download sendiri di internet, itupun gak semuanya ada pembahasan. Aku merasa bahwa persiapanku buat SBMPTN itu gak matang sama sekali. Aku sempat mikir kok kesannya aku gampangke? Hah… tapi mau gimana lagi? Kayak gitu aja, aku udah kesusahan belajar. Tiap ngerjain soal, aku langsung nyerah. Susah! Kalau udah gitu, lagi-lagi aku nangis. Apalagi aku belum daftar, bebanku berat banget, belajar buat SBMPTN dan nentuin pilihan jurusan. Pokoknya selama seminggu setelah pengumuman SNMPTN, hampir tiap malam aku nangis. Tapi, aku sadar aku gak boleh kayak gini terus. Aku harus bangkit! Aku harus semangat! Hari H semakin dekat!
Akhirnya, suatu malam (aku lupa tanggal berapa) aku putusin untuk daftar. Sebelumnya, aku udah buat plan. Plan A yaitu aku ambil jurusan yang sama yang aku ambil pas SNMPTN kemarin tapi karena maksimal pilihan ada 3 jadi Sastra Inggris UNS aku coret dari list. Plan B aku ambil Psikologi UNDIP dan FKIP Bahasa Inggris, kemudian Plan C aku cuma ambil FKIP Bahasa Inggris. Tapi ternyata orang tuaku, terutama ibuku, gak ngijinin aku ambil UNDIP karena terlalu jauh. Mereka nyaranin kalau emang aku mau kuliah luar kota maksimal ke Jogja aja. Parahnya, saat aku udah fix mau ambil Plan B ibuku malah nyuruh aku ambil UGM lagi. Nah loh, aku galau lagi. Alhasil malemnya aku nangis di kamar. Saat-saat terakhir sebelum aku mutusin daftar, ibuku nyaranin untuk ambil Sosiologi UNS karena peluang kerjanya juga luas. Aku bener-bener galau saat itu. Di satu sisi, aku pengin banget memperjuangkan impianku kuliah di UGM. Di sisi lain, aku punya cita-cita untuk jadi guru bahasa inggris. Oke, daripada aku galau berkepanjangan aku langsung buka web SBMPTN kepo-kepo daya tampung dan peminat tahun lalu masing-masing jurusan impianku. Waduh! Psikologi UGM peminat tahun lalu banyak banget! Pantesan pas SNMPTN kemarin aku tumbang begitu aja. Aku langsung mutusin gak ambil Psikologi lagi. Kemudian FKIP Bahasa Inggris UNS, peminat tahun lalu ada ribuan. Tapi karena emang udah cita-cita sejak kelas X aku ngotot tetep ambil FKIP Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama. UNDIP aku tinggalin, dan sebagai pilihan kedua aku ambil Sosiologi UNS sebagai CADANGAN (kenapa kata cadangan aku Bold + garis bawah? Kalian akan tahu jawabannya setelah selesai baca cerita ini). Oke, fix! Dari 3 pilihan jurusan yang bisa diambil untuk SBMPTN aku cuma ambil 2, FKIP Bahasa Inggris sama Sosiologi UNS.
Daftar, beres! Kartu peserta udah beres juga. Keesokan harinya aku sama bapak ke bank Mandiri untuk bayar biaya pendaftaran. Bukti udah di tangan. Wuuaah udah sedikit lega karena saat itu bebanku tinggal satu yakni belajar! Aku tetep kesulitan dalam belajar. Materi SBMPTN jauh lebih sulit daripada materi UN. Kalau boleh milih, aku milih UN lagi daripada harus ikut SBMPTN. Oke, apakah aku mencari cadangan PTS saat itu? Jawabannya tidak! Kenapa? Entahlah, aku punya mindset bahwa aku harus perjuangin cita-citaku sebagai guru lagipula aku udah trauma nyabang ke UGM. Jadi, aku putusin untuk fokus ke SBMPTN aja dan memperjuangkan cita-citaku sebagai guru bahasa inggris.
Sehari sebelum pelaksanaan ujian, aku dan mbak mentorku selama SMA, nengok ruang ujianku di Fakultas Kedokteran UNS. Wah kok dari luar ruangannya biasa aja ya? Tapi siapa sangka kalau di dalamnya ternyata WAH banget. Itu aku sadari setelah aku mengikuti ujian esoknya. Setelah nengok ruang ujian, mbakku ngajak aku nengok calon kampusku. Hore! Kampus ungu, I’m coming!! Puas liat-liat, mbakku kembali ngajak aku jalan-jalan ke kampus Sosiologi. Yaudah deh aku nurut aja. Gitu-gitu juga calon kampusku juga meski cuma cadangan. Aku akui, kampus Sosiologi lebih keren dibanding kampus FKIP. Aku dan mbakku istirahat sebentar di sana sembari ngobrol santai di lantai 2 kampus Sosiologi. Pas kami lagi asyik ngobrol, tiba-tiba ada segerombol anak yang lagi kebingungan nyari ruang ujian. Mereka tanya ke kami berdua, karena kami saat itu hanya ‘numpang’ duduk mbakku jawab gini “wah gak tahu dek, aku bukan penghuni sini.” Dan segerombol anak itupun pergi. Setelah sekiranya lelah kami hilang, kami putuskan untuk pulang kebetulan mbakku juga harus balik ke kampusnya karna mau ngerjain tugas (mbakku mahasiswi UNS jurusan Psikologi tapi kampusnya terpisah dari kampus UNS yang di Kentingan). Sebelumnya dia nraktir aku jus di belakang UNS, hehehe sepertinya ini tidak penting untuk diceritakan ^^v
Dan hari H pun tiba. Dengan memakai kemeja coklat, celana jeans hitam panjang dan sepatu kets favorit aku berangkat ke medan perang. Saking nervousnya, aku gak nafsu makan nasi. Pagi-pagi sebelum berangkat, aku bakar roti, sebagian untuk bekal sebagian untuk sarapan. Tak lupa aku juga membawa sebotol air mineral untuk jaga-jaga kalau aku kehausan pas istirahat. Sepotong roti bakar untuk sarapan tidak habis. Entahlah kenapa tiba-tiba pagi itu aku sama sekali gak nafsu untuk memasukkan apapun ke dalam mulut. Alhasil aku berangkat ujian dengan kondisi perut kosong. Akibatnya, kepalaku pusing gak karuan pas ngerjain TPA. Rasanya pandanganku gelap waktu itu. Tapi untungnya aku masih bisa konsen ngerjain soal TPA. Ujian SBMPTN di ruang ber-AC itu nyenengin. Tempatnya nyaman, sejuk, suasana juga tentram banget hahaha Fakultas Kedokteran gitu~ pantesan bayarnya mahal, ruang kuliahnya aja elite! Ini emang dasarnya aku yang ndeso atau gimana, kalian tahu kursi khas kuliah itu kan? Yang jadi satu sama mejanya. Nah di ruang ujianku kursinya juga gitu. Mejanya pendek banget, alhasil selama ujian aku harus nunduk daaaaan leherku jadi sakit banget gara-gara itu. Wah aku bener-bener tersiksa! Perut kosong, kepala pusing, leher sakit luar biasa plus aku harus bisa ngerjain berpuluh-puluh soal dalam waktu yang terbatas, dan itu selama dua hari! Yep! Selama dua hari ujian SBMPTN badanku ‘hancur’. Leherku mati rasa. Setelah hari pertama aku jalanin, sesampainya di rumah aku langsung beli Salonpas, meski gak mempan tapi mending daripada leherku gak aku obatin sama sekali. Hari kedua puji Tuhan lebih lancar dari hari sebelumnya, tapi badanku tetap dalam kondisi ‘hancur’ malah lebih parah. Hari itu ada 75 soal, aku berhasil mengerjakan 12 soal Sejarah, 10 soal Ekonomi, 12 soal Geografi dan 14 soal Sosiologi. Akhirnya perang berhasil aku jalani meski aku pulang dengan badan ‘hancur’… puji Tuhan.
Masih ada sekitar 3 minggu sebelum pengumuman hasil SBMPTN. Jika kebanyakan orang lain sibuk daftar sana-sini, aku diam di rumah menghabiskan waktuku di depan laptop. Entah itu untuk main game atau sekedar browsing internet dan mainan twitter + facebook. Aku bener-bener gak punya niat nyari cadangan ke PTS atau ikut UM UGM. Alasannya sudah cukup jelas kan? Aku trauma nyabang ke UGM pas SNMPTN kemarin. Jadi berbekal iman yang cukup besar, aku yakin Tuhan akan meloloskanku di SBMPTN ini. Aku yakin aku pasti bisa menggapai cita-citaku sebagai guru bahasa inggris. Saking yakinnya, aku bahkan sampai membuat nazar jika aku lolos dan diterima di FKIP Bahasa Inggris. Tapi sayang nazar itu gak bisa aku tepatin….
Pengumuman SBMPTN diajukan tanggal 8 Juli jam 17.00 WIB. Hari senin pagi, aku bangun pagi dan hal pertama yang aku ingat adalah “wah hari ini pengumuman” dan jantungku mulai berdegup kencang. Begitu terus sepanjang hari. Demi mereda keteganganku aku nyoba tidur siang, tapi gak bisa. Hatiku gak tenang. Akhirnya, untuk mengalihkan perhatian aku nonton Super Show 4 in Osaka di laptop terus marathon ke  drama korea. Wah gak terasa udah jam 3 sore, aku tetep  lanjut nonton drama korea disertai dengan degupan jantung yang makin kencang. Jujur aku takut. Takut gak lolos lebih tepatnya. Tapi aku terus ngeyakinin diriku sendiri bahwa aku pasti lolos. Oh iya, tahu gak? Semenjak aku dinyatain gak lolos SNMPTN sejak saat itu pula aku jadi maniak Pelangi. Aku punya keyakinan bahwa selalu ada pelangi dibalik hujan. Begitu pula denganku, meski aku gak lolos SNMPTN aku juga yakin bahwa Tuhan menyediakan pelangi yang sangat indah untukku dalam wujud, aku lolos SBMPTN. Itulah yang aku yakini dan berhasil menjadi kekuatanku selama hari-hari menunggu pengumuman hasil SBMPTN.
Jam 4 sore, sekarang bukan lagi jantungku yang deg-degan tapi perutku juga mules. Dadaku juga sampai terasa sesak saking aku deg-degan terus. Aku kesusahan bernapas di 30 menit menjelang pengumuman. Aku lagi-lagi nyari kesibukan untuk ngalihin perhatian. Kali ini aku milih main game. Tapi tetep gak mempan! Bukannya konsentrasi terpusat pada game yang aku mainin, hatiku malah jadi semakin gak tenang. 3 menit sebelum jam 5 sore, aku putusin untuk ngecek. Eh kok modemku malah gangguan, lama banget nyambung ke internetnya. Setelah berulang kali nge-restart laptop akhirnya aku berhasil terhubung ke internet jam 5 lewat 10 menit. Aku buka laman resmi pengumuman SBMPTN dan walaaa~ aku diterima di Sosiologi UNS! Uyeee~ eh sebentar! Apa? Sosiologi? Tapi cita-citaku kan jadi guru bahasa inggris? Entah karena sedih atau gembira, saat itu aku langsung nangis. Aku sendiri gak tahu, aku nangis karena sedih atau karena gembira. Yang aku tahu aku cuma pengin nangis. Satu hal yang bikin lega, akhirnya aku dapet PTN juga. Aku gak harus ambil UM. Aku gak harus pusing nyari PTS. Intinya aku sudah sangat bersyukur bisa diterima di UNS. Sosiologi yang awalnya cuma jadi cadangan, malah menjadi tempat aku menuntut ilmu nantinya. Sosiologi yang gak pernah aku pikirin sebelumnya, Tuhan malah menempatkan aku di sini bukan di jurusan yang aku idam-idamkan sejak kelas X. Ibuku yang saat itu juga melihat aku menangis, nasihatin aku gini “gak usah nangis. Itu berarti Tuhan gak ngijinin kamu jadi guru, yun. Pokoknya nanti kamu harus belajar sungguh-sunggguh!”
Di satu sisi aku lega, di sisi lain aku sedih. Aku terpaksa mengubur cita-citaku untuk jadi guru. Tapi aku yakin dengan sepenuh hati, bahwa memang inilah jalanku. Tuhan menutup pintu untukku di SNMPTN, agar Ia bisa membukakan jalan lain yang lebih indah, yakni lewat jalur SBMPTN ini. Banyak orang berkata, jalur SBMPTN itu adalah perjuangan yang sesungguhnya dan seseorang berkata padaku bahwa mereka yang lolos SBMPTN adalah pemenang sesungguhnya. Jelas saja, kami para pejuang SBMPTN berhasil mengalahkan ratusan ribu peserta lainnya dengan usaha kami sendiri, dengan keringat kami sendiri! Itu yang membuatku tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Aku telah berhasil lolos dengan usahaku sendiri. Aku diterima di UNS dengan usahaku sendiri, itu yang akan memotivasiku untuk kuliah sungguh-sungguh di sana. Perjuanganku yang mati-matian selama ujian SBMPTN, aku bahkan hampir pingsan saat mengerjakan soal ujian, terbayar sudah.

Kiranya ceritaku ini bisa memotivasi kalian, adik-adikku yang saat ini duduk di kelas XII, untuk kalian calon pejuang SNMPTN maupun SBMPTN tahun 2014. Ingatlah, jika kalian nanti gagal di SNMPTN, kalian harus bangga karena di SBMPTN lah perjuangan yang sesungguhnya. Namun, apabila kalian kembali gagal di SBMPTN, segera bangkit dan kembali kobarkan semangat kalian, jalur masuk PTN ada banyak. Belajar, berdoa, dan iman adalah bekal utama untuk mendapatkan PTN impian kalian.